Minggu, 25 Oktober 2015

Untung Ternak Cacing

Untung Ternak Cacing     Untung dari ternak cacing_, cacing tanah merupakan salah satu hewan yang cukup dicari oleh beberapa kalangan untuk bahan obat atau pakan burung. Namun sayangnya sangat sedikit orang yang mau ternak cacing,  walapun jumlah permintaan akan cacing selalu kurang.
Baikklah,langsung saja kita haturkan panduan cara budidaya ternak cacing ;

1. Persiapan kandang
Kandang dapat di buat dari beberapa bahan murah serta mudah didapat semacam papan sisa, bambu, ijuk, rumbia dan genteng tanah liat. Untuk kandang permanen peternakan taraf besar misalnya memiliki ukuran 1. 5 x 18 m serta tinggi 0.45 m.  Didalamnya dibuat wadah-wadah tempat pemeliharaan semacam rak-rak yang bertingkat, serta kandang bisa terbuka tanpa dinding
Jenis-model system budidaya yang dapat diaplikasikan diantaranya : kotak bertumpuk, rack berbaki, pancing berjajar serta pancing bertingkat.

2. Pembibitan.
Persiapan untuk budidaya cacing tanah adalah:
Meramu media tumbuh
Menyediakan bibit unggul
mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung

Pemilihan  Bibit:
a. Pemilihan Bibit untuk Calon Indukan
Untuk sekala komersial sebaiknya menggunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan jumlah yang besar, tapi untuk skala kecil kita bisa mencari bibit cacing tanah dari alam, misalnya dari lingkungan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.

b. Pemeliharaan Bibit Calon Induk
Dalam pola pemeliharaan terbagi menjadi beberapa cara:
Cacing tanah dipelihara dalam jumlah banyak sesuai dengan tempat yang ada, dengan pemilihan Cacing tanah yang muda atau dewasa. Jika wadah berukuran panjang 2.5 m, lebar kurang lebih 1 m, dan tinggi sekitar 0.3 m, maka dapat ditampung sekitar 10.000  ekor cacing tanah dewasa.
Pemeliharaan dimulai dari jumlah kecil, dan jika jumlahnya bertambah, sebagian dipindahkan ke wadah lain.
Pemeliharaan dengan mengkombinasi cara a dan b.
Pemeliharaan khusus kokon sampai menjadi anakan, setelah dewasa pindahkan ke tempat lain.
Pemeliharaan khusus cacing dewasa untuk bibit.

3. Model Perkembangbiakan
Jika media pemeliharaan sudah siap dan bibit cacing tanah sudah tersedia, maka penanaman siap dilakukan. Bibit cacing tanah jangan langsung sekaligus dimasukkan ke dalam media, melainkan sedikit-sedikit. Beberapa bibit coba disimpan di atas media, jika bibit masuk ke dalam media hal itu menunjukkan bahwa cacing betah di media tersebut. Tambahkan lagi dan cek tiap 3 jam sekali apakah masih ada cacing yang berkeliaran ke luar, kalau cacing malah meninggalkan media atau wadah berarti media yang digunakan harus diganti. Cara mengganti media yaitu dengan cara di siram air, kemudian diperas atau dibuang airnya  sampai airnya berwarna bening.
Untuk mengetahui apakah cacing tanah yang ditanam betah terhadap media yang digunakan, Anda bisa memastikannya setelah 12 jam kemudian.

4. Reproduksi Atau Perkawinan
Cacing tanah merupakan golongan hewan hermaprodit yang memiliki alat kelamin ganda, jantan dan betina dalam satu tubuh. Tapi untuk pembuahan tidak bisa dilakukan sendiri. Sepasang cacing tanah akan menghasilkan satu kokon berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 1/3  besar kepala korek api yang berisi telur-telur. Setiap kokon berisi 2-20 ekor, dan rata-rata 4 ekor.
Kemudian Kokon diletakkan di tempat yang lembab, dan dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. 100 ekor cacing tanah dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun.
Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan dengan ditandai adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan, setelah 7-10 hari perkawinan cacing dewasa akan menghasilkan 1 kokon.

5. Pemeliharaan
 Pemberian Pakan
Dalam satu hari satu malam Cacing tanah diberi pakan sekali sesuai berat cacing tanah yang ditanam. Apabila ditanam 1 Kg Cacing tanah, maka pakan diberikan harus 1 Kg.
Pakan cacing tanah secara umum berupa kotoran hewan.

Hal yang harus diperhatikan dalam pemberian pakan Cacing tanah adalah sebagai berikut:
Pakan diberikan harus berupa bubuk atau bubur.
Taburkan pakan rata di atas media, tapi tidak menutupi semua permukaan media, kira-kira sekitar 2/3 dari wadah tidak ditaburi pakan.
Tutup pakan dengan karung, plastik atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
Apabila masih tersisa pakan sebelumnya pemberian pakan berikutnya harus diaduk dengan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
Perbandingan bubur pakan dengan air diberikan 1:1.

– Penggantian Media
Media yang sudah jadi tanah atau kascing yang sudah dipenuhi banyak telur (kokon) harus segera diganti. Agar cacing cepat berkembang, maka antara telur, anakan dan induk harus dipisahkan pada media berbeda. Penggantian media rata-rata dilakukan dalam waktu 2 Minggu sekali.

– Proses Kelahiran
Media untuk sarang terbuat dari:  kotoran hewan, batang pisang, dedaunan atau buah-buahan, limbah pasar, limbah rumah tangga, kertas, Koran, kardus, kayu lapuk atau bubur kayu.
Semua bahan dipotong sepanjang + 2.5 cm. semua bahan diaduk dan ditambah air kecuali kotoran ternak, kemudian diaduk lagi. Selanjutnya bahan campuran dan kotaran ternak dicampurkan menjadi satu dengan perbandingan 70:30 dengan ditambah air secukupnya agar upaya tetap basah.

6. Hama atau  Penyakit
Pengendalian terhadap hama perlu dilakukan, karena hal itu akan menentukan keberhasilan beternak Cacing tanah. Hama yang merupakan musuh cacing tanah antara lain : ayam, itik, ular, angsa, burung, kelabang, lipan, semut, kumbang, lalat, tikus, katak, tupai, lintah, kutu dan banyak lagi. Musuh lain yang tidak kalah mengganggu yaitu semut merah yang memakan karbohidrat dan lemak yang terdapat pada pakan, kedua zat tersebut sangat diperlukan untuk penggemukan Cacing tanah. Untuk mencegah serangan semut merah dengan cara wadah pemeliharaan dirambang dengan air.

7. Panen Cacing
Hal yang bisa diharapkan dari panen Cacing tanah, yaitu;
Dalam tekniknya panen bisa dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan mengunakan alat penerangan lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah akan berkumpul di bagian atas media karena sangat sensitif dengan cahaya. Anda tinggal memisahkan antara cacing dan media. Cara kedua dengan membalikan sarang, cacing biasanya berkumpul maka mudah memisahkan antara Cacing tanah dengan media.
Jika terdapat kokon atau kumpulan terlur pada saat panen, maka kembalikan sarang pada wadah semula dan diberi pakan selama 30 hari. Telur akan menetas dan cacing tanah bisa dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang baru dan kascingnya siap di panen.
tanah tinggi, namun para pelaku usaha ini umumnya kurang tertarik untuk berkecimpung di dunia usaha cacing tanahmungkin bagi sebagian orang,ternak cacing ini sangat menjijikan dan terkesan jorok.Namun bagi yang tidak merasa jijik peluang usaha ternak cacing ini sangatlah menjanjikan.

Begitulah kami sampaikan panduan Usaha Budidaya Ternak Cacing Tanah, Semoga artikel yang kami sampaikan ini dapat bermanfaat.Selamat mencoba dan sukses...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar